Pekalongan, 3 Februari 2025
DelikJateng.id
Ketua DPK GNPK (Gerakan Nasional Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi) Kota Pekalongan, Feri Agus Dwinarko mengecam keras pernyataan Menteri Desa dan PDTT (Mendes PDTT), Yandri Susanto,

Ketua DPK GNPK Kota Pekalongan tersebut mengatakan, Sangat tersinggung dalam ucapannya (Mendes PDTT), “Yang paling banyak mengganggu Kepala Desa itu LSM & Wartawan Bodrex, karena mereka mutar itu, hari ini minta 1 (satu) juta, bayangkan kalau 300 desa (tiga ratus desa) 300.000.000 (tiga ratus juta)”
Mendes tidak memakai kata oknum yang menyiratkan menjeneralisasi insan pers.
Didalam video yang beredar di grup-grup WhatsApp, Media TV dan Medsos saat rapat Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), pada Jum’at (31/1)
Yandri Susanto yang diduga memfitnah dan mencemarkan nama baik Wartawan & LSM dalam statementnya.
“Pada video pendek yang beredar, pernyataan (statemen) Yandri Susanto sangat melukai insan pers di Indonesia, dimana insan “PERS” itu adalah kontrol sosial,” ujar Feri
“Apakah anda sebagai menteri desa alergi dengan LSM dan wartawan?” Dan kenapa anda harus memberikan nilai atau angka 1 juta rupiah, dan 300 desa 300 juta dalam statment videonya,” bebernya
Lebih lanjut aktifis Anti Rasuah tersebut menyesalkan ucapan Menteri desa yang disinyalir tidak paham bahwa mayoritas aliran dana desa banyak disalahgunakan oleh oknum perangkat desa, seperti yang ramai diberitakan di media cetak maupun online.
“statment anda sangat melukai insan pers yang melaksanakan fungsi kontrol sosial se-Indonesia,” tegas Feri
Ia juga menambahkan serta mengecam statmen dari Menteri Desa PDT, yang seakan akan wartawan dan LSM itu meminta sejumlah uang, padahal kehadiran wartawan itu sebagai bentuk kontrol sosial melalui pemberitaan, terhadap kinerja aparatur desa maupun negara, terutama mereka yang mengelola anggaran APBD maupun APBN.
Harapan saya supaya presiden Prabowo Subianto agar segera menanggapi perkataan yang dilontarakan seorang menteri kepada LSM dan wartawan dengan istilah Bodrex,” pungkas Feri
(Istiadi Boesro)






